Parepare — Ngopi Kamtibmas Parepare menawarkan pendekatan sederhana untuk membangun komunikasi antara polisi dan masyarakat. Lewat obrolan di warung kopi, Bhabinkamtibmas Kelurahan Mallusetasi, Aipda Nasir Cunnu, berupaya mendekatkan pelayanan kepolisian dengan kehidupan sehari-hari warga, termasuk dalam membicarakan persoalan keamanan lingkungan.
Di Kelurahan Mallusetasi, Kecamatan Ujung, Kota Parepare, Minggu (11/10/2026), percakapan santai menjadi kesempatan bagi warga untuk berbagi informasi mengenai situasi di sekitar mereka. Model komunikasi seperti ini memungkinkan masyarakat menyampaikan persoalan tanpa harus menunggu adanya pertemuan formal.
Bagi polisi yang bertugas di tingkat kelurahan, informasi dari masyarakat memiliki arti penting. Perselisihan antarwarga, potensi gangguan ketertiban, hingga persoalan sosial yang berisiko berkembang menjadi konflik terkadang lebih dahulu terlihat dalam kehidupan sehari-hari sebelum muncul sebagai laporan resmi.
Namun, mendengar keluhan saja tidak cukup. Kepercayaan masyarakat terhadap polisi juga ditentukan oleh cara petugas memeriksa informasi, merespons persoalan, dan memberikan tindak lanjut yang sesuai.
Tidak semua warga merasa nyaman menyampaikan persoalan melalui jalur formal. Sebagian mungkin memilih berbicara langsung ketika bertemu petugas di lingkungan tempat tinggal atau dalam suasana yang lebih santai.
Di sinilah komunikasi informal dapat berfungsi sebagai pintu masuk untuk mengenali persoalan lebih awal. Melalui interaksi langsung, Bhabinkamtibmas dapat memahami situasi yang dihadapi warga sekaligus menilai apakah suatu informasi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Meski demikian, setiap informasi harus diperlakukan secara cermat. Keluhan atau dugaan yang disampaikan seseorang tidak serta-merta membuktikan terjadinya pelanggaran. Petugas tetap perlu melakukan verifikasi sebelum menentukan tindakan.
Pendekatan tersebut penting agar komunikasi tidak berubah menjadi ruang penyebaran kabar yang belum teruji. Warga perlu merasa aman saat menyampaikan informasi, sementara polisi harus menjaga objektivitas dalam menilai setiap persoalan.
Kedekatan sosial akan lebih bermakna ketika membantu masyarakat menemukan jalur penyelesaian yang tepat, bukan sekadar menciptakan kesan akrab antara petugas dan warga.
Kapolres Parepare AKBP Phunky Mahendra Borniawan menempatkan Bhabinkamtibmas sebagai salah satu unsur penting dalam menjaga keamanan hingga tingkat kelurahan. Dalam pengarahan kepada personel pada September 2026, ia menekankan bahwa kehadiran polisi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Bhabinkamtibmas adalah garda terdepan institusi Polri di tengah masyarakat. Kehadiran rekan-rekan di lapangan bukan sekadar menjalankan tugas rutin, melainkan harus mampu menjadi pelindung, pengayom, serta problem solver atas setiap permasalahan yang dihadapi warga di wilayah binaannya,” tegas AKBP Phunky Mahendra Borniawan.
Pesan tersebut menyoroti peran Bhabinkamtibmas yang tidak terbatas pada pemantauan situasi keamanan. Petugas juga perlu mengenali persoalan sosial, membangun komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat, serta membantu mencari solusi sesuai kewenangannya.
Deteksi dini menjadi bagian penting dari pendekatan ini. Ketika warga bersedia menyampaikan informasi dan polisi mampu menilainya secara tepat, potensi gangguan dapat dikenali sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Akan tetapi, tidak semua masalah dapat diselesaikan melalui percakapan. Persoalan tertentu membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut atau koordinasi dengan pihak lain. Karena itu, kemampuan membedakan masalah yang dapat ditangani melalui komunikasi dan perkara yang membutuhkan proses formal menjadi hal penting bagi petugas.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Nusantara (KPN) Polres Parepare, IPTU Suardi, S.E., juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam pelayanan Bhabinkamtibmas.
Menurut Suardi, masyarakat perlu merasakan bahwa polisi dapat diajak berkomunikasi, mendengarkan keluhan, dan membantu mencari jalan keluar atas persoalan di lingkungan mereka.
“Ini wujud nyata Polisi Bersama Masyarakat. Melindungi, Mengayomi, Melayani. Bhabinkamtibmas harus hadir sebagai sahabat warga, mendengarkan keluh kesah warga, dan menjadi problem solver di wilayah binaannya,” kata IPTU Suardi.
Pendekatan humanis bukan berarti mengabaikan aturan atau menghindari tindakan tegas ketika diperlukan. Sebaliknya, pelayanan yang baik harus menggabungkan kemampuan berkomunikasi dengan sikap profesional, objektif, dan konsisten dalam menjalankan prosedur.
Warga yang menyampaikan keluhan juga membutuhkan kejelasan mengenai langkah yang dapat ditempuh. Ketika persoalan belum dapat diselesaikan saat itu juga, penjelasan mengenai proses penanganan dapat membantu mencegah kesalahpahaman.
Dengan demikian, komunikasi yang terbuka perlu disertai tanggung jawab dari kedua belah pihak. Masyarakat menyampaikan informasi secara jujur, sedangkan polisi memeriksa dan menanganinya sesuai fakta serta ketentuan yang berlaku.
Keamanan lingkungan tidak dapat sepenuhnya bergantung pada kehadiran aparat. Masyarakat juga memiliki peran untuk mengenali potensi gangguan, menjaga hubungan antarwarga, dan melaporkan keadaan yang membutuhkan perhatian.
Perselisihan kecil, misalnya, dapat berkembang apabila pihak yang terlibat tidak menemukan cara berkomunikasi yang baik. Dalam situasi tertentu, bantuan petugas atau koordinasi dengan unsur terkait diperlukan untuk mencegah konflik berkepanjangan.
Hal serupa berlaku terhadap informasi mengenai dugaan gangguan ketertiban. Warga sebaiknya tidak langsung menyebarkan tuduhan atau kabar yang belum terverifikasi. Informasi tersebut lebih baik disampaikan kepada pihak berwenang agar dapat diperiksa secara objektif.
Di sisi lain, petugas perlu menjaga kerahasiaan informasi yang patut dilindungi dan memperlakukan setiap pengaduan secara profesional.
Kerja sama polisi dan masyarakat akan lebih efektif apabila warga mengetahui cara melapor, sementara petugas memberikan respons yang jelas dan sesuai kebutuhan.
Pola komunikasi seperti ini juga dapat membantu Bhabinkamtibmas menentukan persoalan yang perlu diprioritaskan. Informasi yang relevan bisa menjadi dasar koordinasi dengan pemerintah kelurahan maupun unsur lain yang memiliki kewenangan menangani masalah tertentu.
Ngopi Kamtibmas Parepare memperlihatkan bagaimana percakapan sederhana dapat membuka ruang komunikasi mengenai keamanan lingkungan. Namun, manfaat pendekatan tersebut tidak cukup diukur dari seberapa sering polisi bertemu warga atau seberapa akrab suasana pertemuannya.
Ukuran yang lebih penting ialah apakah persoalan masyarakat dapat dikenali dengan lebih baik, apakah informasi diperiksa secara cermat, dan apakah keluhan memperoleh tindak lanjut yang sesuai.
Bagi Aipda Nasir Cunnu sebagai Bhabinkamtibmas Kelurahan Mallusetasi, komunikasi dengan warga dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi wilayah binaan. Bagi masyarakat, interaksi tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan persoalan melalui jalur yang tepat.
Pada akhirnya, warung kopi dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pengalaman warga dengan tugas kepolisian. Namun, kedekatan baru benar-benar berarti ketika masyarakat merasakan pelayanan yang responsif, penanganan yang profesional, dan komunikasi yang tetap terjaga setelah percakapan berakhir.
Upaya menjaga keamanan Kelurahan Mallusetasi pun membutuhkan kerja berkelanjutan. Polisi perlu hadir dan mendengarkan, sementara masyarakat perlu berpartisipasi dengan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab. Melalui kerja sama tersebut, potensi gangguan dapat dikenali lebih awal dan persoalan di lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk ditangani secara tepat. (*)

Tinggalkan Balasan